Tampilkan postingan dengan label Elegi Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Elegi Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Juni 2015

Tentang sebuah kata "ASA"






Asa, harap, impian, cita-cita, keinginan adalah kata yang sering digunakan untuk mengekspresikan sebuah maksud yang ingin kita capai. Kata-kata ini memang bukanlah sinonim, tapi menurutku masih satu rumpun lah... Deuh...maksa enggak ya ini. Jangan-jangan aku dikomplain sama pak WJS Purwadarminta yang bikin kamus Bahasa Indonesia.... Semoga saja tidak ya..... kan aku bilang serumpun, bukan sinonim heheheheee....

Setiap manusia pasti punya mimpi. Tiap manusia pasti punya harap. Dan menurutku, saat kita punya mimpi, saat kita punya harap, kita akan menentukan target. Target inilah yang akan membuat hidup kita bersemangat. Hari-hari yang kita lalui menjadi penuh dengan berbagai upaya untuk mewujudkan asa. Ya...tiada hari yang kita lewati tanpa strategi untuk mewujudkan mimpi. Penuh semangat dan gairah yang luar biasa kita jalani hari-hari dalam hidup. "Meaningfull life....."

Rabu, 06 Mei 2015

Menjadi Pribadi Yang Menyenangkan



Sebagai makhluk sosial, kita.... manusia tak bisa lepas dari yang namanya interaksi dengan sesama. Dalam interaksi itu kita akan berkomunikasi dengan berbagai karakter orang. Tak jarang kita temui orang yang sangat menyenangkan namun tak sedikit yang ngeselin, songong, mau menang sendiri, atau apa pun sikap tak mengenakkan yang sering kita labelkan pada seseorang saat interaksi dan komunikasi terasa tak menyamankan.

Tidak berlebihan rasanya bila kita ingin menjadi orang yang asyik dan menyenangkan. Secara kita sendiri pun pastinya tak nyaman menemui "orang-orang songong" yang mengganggu komunikasi..... Hallah....lebayyy.....^_^ Klo enggak mau "disongongin", kitanya juga jangan songong ke orang dong ya.... Lebih baik dimulai dari diri sendiri. Jadi orang yang menyenangkan, pasti banyak teman......

Seperti apa pribadi yang menyenangkan itu ???

Menurutku, setidaknya kita perlu membiasakan diri melakukan beberapa hal berikut, agar bisa melatih diri memiliki pribadi yang menyenangkan. Kesimpulan memang bukan disintesiskan dari pendapat pakar, belum juga diuji dan dibuktikan dengan penelitian ilmiah. Semua ini disimpulkan dari pengalaman hidup yang sudah hampir setengah abad dijalani......... taelaaaahhhh... azzzeekkkk dah.....^_^
So...klo ada yang tidak sependapat ya....sah-sah ajjah sih.....
Boleh kok ditambah atau dikurangi, sesuai pengalaman hidup masing-masing kali ya.. ^_^

Hal-hal yang perlu dibiasakan dalam diri kita agar dapat menjadi pribadi yang menyenangkan menurut versiku adalah:

Rabu, 17 September 2014

Pelangi Kehidupan



"Hidup tidak selalunya indah...
Langit tak selalu cerah....
Suram malam tak berbintang...
Itulah lukisan alam.....
Begitu aturan Tuhan......"


Itulah sepenggal  syair lagunya Hijaz “Lukisan Alam”. Hidup ini memang penuh warna warni. Berputar bagai roda pedati. Bila sisi roda itu bertahan di satu tempat, maka berhentilah sang pedati. Begitu pun hidup. Adakalanya berputar hingga ke puncak tertinggi. Dan sebuah sunnatullah bila pada gilirannya harus bergerak turun bahkan hingga ke titik nadir.

Pada hakekatnya, hidup adalah ujian. Ujian untuk meraih kesuksesan dunia akhirat. Tak beda jauh dengan anak sekolah, sejatinya ujian hidup adalah untuk menaikkan derajat seseorang. Semakin tinggi derajat yang hendak diraih, maka ujian yang dihadapi juga semakin sulit dan berat. Bukan kah kita tak jarang menyengajakan diri untuk ikut ujian berkali-kali, hanya untuk mengetahui kompetensi diri kita??? Mulai dari ikut ujian TOEFL/TOEP, ujian TKDA, sidang skripsi, sidang tesis, bahkan sidang disertasi. Apa tujuannya??? Mengukur kemampuan dalam rangka peningkatan kompetensi diri.

So....tidak ada bedanya dengan ujian hidup. Derajat keimanan akan semakin tinggi seiring dengan keberhasilan seseorang dalam menghadapi ujian /cobaan yang Allah berikan kepada ummat NYA. Dalam hadits shahih Rasulullah SAW bersabda “Orang yang paling banyak mendapat cobaan adalah para nabi, kemudian orang-orang shaleh, dan selanjutnya orang-orang yang memiliki derajat yang tinggi dalam agama. Karena seseorang diberikan cobaan sesuai dengan kualitas agamanya. Jika agamanya teguh, maka ia mendapat tambahan cobaan”. Dengan demikian, ujian hidup bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti.

Rabu, 20 Agustus 2014

Tamak Penyakit yang Merusak


“ Seandainya manusia memeiliki lembah berisi harta, tentu ia masih menginginkan harta yang banyak semisal itu pula. Mata manusia barulah penuh jika diisi dengan tanah. Allah tentu akan menerima taubat bagi siapa saja yang ingin bertaubat” (HR. Bukhari)

Tamak suatu penyakit yang merusak. Secara  bahasa tamak berarti rakus hatinya. Sedang menurut istilah tamak adalah cinta kepada dunia (harta) terlalu berlebihan tanpa memperhatikan hukum haram yang mengakibatkan adanya dosa besar.

Dari definisi di atas bisa dipahami bahwa tamak adalah sikap rakus terhadap hal-hal yang bersifat kebendaan tanpa memperhitungkan mana yang halal dan haram. Sifat ini menjadi sebab timbulnya rasa iri, dengki, hasud, permusuhan dan perbuatan keji dan mungkar lainnya, yang kemudian pada penghujungnya mengakibatkan manusia lupa kepada Allah SWT, kehidupan akhirat serta menjauhi kewajiban agama. Rasa iri memunculkan bibit-bibit kebencian ketika melihat orang lain mendapat sesuatu yang lebih dari dirinya. Cinta keapa dunia menyebabkan apa yang ada di tangan orang lain terlihat indah. Ketika  manusia telah dikuasai penyakit tamak/serakah, yang haram pun berusaha dicarikan kehalalan agar sesuai dengan kehendaknya.

Rasulullah SAW menggunakan perumpamaan dua ekor serigala yang kelaparan dan dilepaskan di tengah kerumunan domba. Ada dua kemungkinan yang terjadi, pertama serigala tadi akan mati kelaparan karena tidak sanggup mengejar mangsanya. Kedua, serigala tadi berhasil memangsa satu atau dua ekor domba dari gerombolan domba tadi. Namun demikian, betapa pun laparnya serigala tadi, dia tidak akan sanggup memakan lebih dari 2 ekor domba sekaligus. Lain halnya dengan manusia, ketamakan/keserakahan membuat manusia menghalalkan segara cara untuk memiliki sesuatu yang diinginkannya.

Imbas dari tamak terhadap dunia adalah rasa selalu ada dalam kemiskinan. Ingat, bahwa orang yang miskin bukanlah orang yang kekurangan harta benda. Orang yang miskin sebenarnya adalah orang yang tidak pernah kenyang dengan harta dunia. Ia cari harta siang dan malam, tidak menghiraukan halal dan haram, dan bahkan ia persembahkan hidupnya untuk mencari hata dan harta. Dia tidak pernah merasa cukup karena sifat tamaknya. Setiap melihat sesuatu yang lebih baik menurut penilaian matanya, maka otaknya memerintahkan untuk mendapatkannya apa pun cara yang harus ditempuhnya.

Lalu bagaimana menyembuhkan diri yang terjangkit penyakit tamak ini???

Obatnya adalah senantiasa memperkuat keimanan kita kepada hal ghoib. Beriman kepada hal ghoib berarti kita meyakini dengan pasti bahwa Allah itu ada. Malaikat senantiasa mencatat amalan baik dan buruk kita. Mengimaninya juga berarti kita meyakini bahwa setiap perbuatan pasti Allah sediakan balasannya, entah itu pahala atau dosa, entah itu surga atau pun neraka.


Bertolak dari keimanan kepada hal yang ghoib ini, kecintaan kita kepada dunia akan memudar berganti dengan cinta kepada akhirat yang abadi. Ketika cinta kepada dunia tak lagi merajai, maka rasa iri dengki akan hilang juga dari diri, kemudia tidak ada lagi alasan bagi diri ini untuk terjangkiti sikap tamak yang merusak.

)*Edisi Evadir....

Kamis, 27 Februari 2014

Jika Hatimu Lelah...


“Suddenly I feel tired, very tired...
Everything makes me tired, over and over....
And now, I’m bored with my dream......”

Kuawali pagiku hari ini dengan rasa yang tak jelas juntrungannya. Sedih.....tapi sedih kenapa???? Apa yang membuat sedih???? Tak ada satu pun nikmat NYA yang diambil dari raga lemahku ini. Pagiku kali ini pun sebenarnya sungguh sangat indah. Mentari hangat bersinar, tak ada malu sedikit pun. Keindahan sinarnya bahkan sampai menoreh semburat jingga di ufuk timur sana. Sungguh, sebuah keindahan suasana pagi lereng Ciremai yang tak layak diragukan lagi. Namun ironisnya, keindahan ini tak mampu melebur suasana batinku yang sedang jengah tanpa arah.....

Samar kudengar riang kicau burung di pokok pohon samping rumahku, kutarik nafas dalam-dalam, ku pejam mata rapat-rapat......Ah......hembusan nafas ini terasa berat.....
Sungguh aku lelah........

Senin, 16 September 2013

Ketika Cinta Harus Teruji...


“Ternyata, aku tidaklah sekuat Xena, warior princess dalam salah satu episode'a Hercules "The Legendary Journey". Aku juga tidak segagah Gatot Kaca, putra Arimbi dalam kisah Mahabharata, tokoh pewayangan yang gagah perkasa, dikenal orang sebagai si "otot kawat tulang besi". Aku tidak lebih dari seorang widya, perempuan lemah yang hanya bisa menangis saat aku tak sanggup lagi menanggung beban batinku. Maafkan aku yang sudah melibatkanmu dalam kesulitan hatiku, baru kali ini aku mengajak orang lain masuk dalam masalah hidup yang ku hadapi. Aku benci dengan kecengengan ini, aku kesal pada diriku yang tak mampu memaksa hatiku untuk membiarkan saja hubungan antara mereka kian dekat. Selama ini aku sudah bertekad untuk menganggap semua’a sebagai sesuatu yang tak perlu membebani pikiranku. Aku sudah ber’azam bahwa rumah tangga yang kupertahankan ini hanya demi anak-anakku. Biarlah suamiku tenggelam dalam keindahan masa lalu yang kembali hadir membuai hidupnya. Berbagai model komunikasi yang aku pelajari sudah aku terapkan untuk memperbaiki kualitas hubungan kami. Introspeksi diri dan mengubah pelayananku sebagai seorang istri pun sudah aku lakukan. Bahkan aku selalu mencoba menghidupkan kemesraan diantara kami, dengan harapan sebuah keajaiban terjadi. Dan benar, it’s miracle........***********(aku ingin mengenalmu lebih jauh mbak, agar kita bisa saling memahami, karena kita mencintai orang yang sama. Maaf ya mbak, jika aku juga mencintai suamimu)*************** Blarrrrr........................................ Maksude opo????   Astaghfirullah............   dedel rasane otakku”

************************************************************************************

Itulah sepenggal email dari seorang sahabat yang masuk kedalam inbox ku. Aku tercenung, jari jemariku tak sanggup memencet keyboard laptopku untuk menulis jawaban. Ya...Widya adalah sahabat masa kecilku yang aku tahu memang sedang menghadapi masalah dalam rumah tangganya. Widya yang saat ini tengah sibuk menyelesaikan tesisnya, kini harus membayar mahal keputusannya melanjutkan studi dengan keutuhan rumah tangganya. Memang, saat memutuskan untuk  kuliah lagi, mereka berdua (Widya sahabatku dan suaminya) sudah berkomitmen untuk bisa saling memahami kesibukan masing-masing. Siapa pun tahu, bahwa keputusan ini akan membawa konsekuensi berkurangnya intensitas pertemuan dalam keluarga, apalagi Widya mengambil kuliah extension yang jadwalnya adalah di hari Sabtu dan Minggu. Jelas sudah bahwa waktu bagi mereka untuk berkomunikasi kian sempit. Rutinitas dunia kerja di kota metropolitan yang memaksa semua pekerja untuk berangkat saat matahari belum muncul dan pulang ketika matahari telah bergeser menerangi belahan bumi yang lain, membuat siapa pun karyawan di ibukota menjadi individu-individu yang agak susah berinteraksi dengan seluruh anggota keluarganya. Tak terkecuali Widya sahabatku. Disaat jadwal sang istri yang begitu padat, komunikasi yang terhambat, sangat memungkin siapapun yang tidak mampu mengelola hati, untuk tergiring pada hal-hal yang berbahaya. Kemajuan teknologi, kemudahan berinteraksi dengan siapa pun melalui berbagai sosial media, membuat kita seolah tak lagi terhalang oleh jarak untuk berkomunikasi dengan orang lain. Dan inilah yang terjadi pada Widya sahabatku.

Alih-alih iseng mencari teman masa SMA’a, suami Widya malah bertemu dengan perempuan dari masa lalunya alias mantan pacar. Dalam kondisi istri yang tidak ada di rumah saat suami libur, komunikasi antara suami widya dan bekas pacarnya semakin sering terjadi. Kian lama hubungan ini kian dalam, hingga widya pun dapat merasakannya. Berharap ini bukanlah sebuah kenyataan. Namun widya harus kecewa, karena sang suami meng’iya’kan seluruh pertanyaannya.

Jujur, harus aku acungi jempol untuk ketegaran hatinya menghadapi ketetapan Allah ini. Salut juga untuk tekadnya yang kuat mengokohkan kembali rumah tangganya yang sedang didera cobaan. Tanpa keluh kesah sedikit pun, widya tegar menapaki jalan yang aku tahu pasti terasa pedih bagi kaki kecilnya untuk melangkah. Ya....siapa pun tentu akan merasakan sakitnya sebuah penghianatan, apa pun alasannya. Yang bisa aku lakukan untuknya selama ini hanyalah menguatkannya agar senantiasa memperbanyak mengingat Allah, bersabar dan bertawakal Illallah.....walau mungkin aku hanya bisa bernasehat saja, ‘Jarkoni’ klo orang jawa bilang.....’Bisa ngajar, tapi ora iso nglakoni’..... Ya, minimal aku mencoba berempati untuk masalah hidup yang ia alami. Tapi kali ini, saat bekas pacar suaminya yang kini mewarnai episode dalam kehidupan rumah tangganya berkirim email untuk mengenal widya lebih dekat, dan terang-terangan mengatakan “Kita mencintai orang yang sama” pada Widya........aku tak sanggup lagi menuliskan nasehat-nasehat kecil sekedar untuk menguatkan hatinya. Andai saja ia berada dekat denganku, ingin rasanya ku peluk tubuh mungilnya, untuk seidikit menenangkan jiwanya yang aku tahu pasti sedang sangat terguncang. Ah.....widya yang malang.........

************************************************************************************

Sahabat....ada beberapa pelajaran hidup yang dapat kita ambil dari kisah ini. Harus disadari, menjadi sepasang suami istri adalah ibarat orang yang sedang mengikuti rally Paris Dakkar. Sang pengemudi butuh navigator untuk membantu memastikan jalan yang akan dilalui bebas dari aral melintang yang mengganggu, disaat pengemudi harus fokus pada stir sambil terus mengendalikan laju mobilnya. Bila kehilangan arah, pengemudi dan navigator akan berdiskusi sambil melihat peta sehingga mobil bisa sampai ke garis finish tepat pada waktunya. Diskusi yang dilakukan tidak perlu lama, sebentar pun cukup, namun berkualitas. Yang lebih penting lagi adalah, masing-masing memahami peran dan tanggungjawabnya. 

Bila hal ini dianalogkan dalam kehidupan kita, suami adalah sang pengemudi, sedangkan kita para istri adalah navigator yang siap mensupport pengemudi agar mampu memegang kendali dengan baik. Al-Qur’an dan sunnah itulah peta penunjuk jalan, manakala rute yang kita lalui tak lagi berada pada jalur yang semestinya. Komunikasi yang baik, menjadi jembatan penguat kokohnya kerjasama diantara pasangan ini. Tentu bukanlah kuantitas yang menjadi ukuran, namun komunikasi yang berkualitas jauh lebih bermakna. Penghargaan atas peran dari pasangan kita juga tak kalah penting. Menghormati dan menghargai segala usaha yang dilakukan oleh pasangan kita dalam menjalankan perannya, menjadi modal utama. Sudah seharusnyalah kita berikan apresiasi setinggi-tingginya, karena ini adalah wujud dari komitmen masing-masing individu saat bersumpah setia di depan penghulu untuk saling menyayangi dan mengasihi. Sebenarnya, inilah kuncinya, berpegang teguh pada komitmen. 

Jangan pernah berpikir, perjalanan yang kita lalui akan bebas dari halangan. Syaitan yang sudah bersumpah hingga akhir zaman untuk mengganggu anak adam, tidak akan tinggal diam melihat sebuah rumah tangga yang hidup damai dalam kehangatan dan keharmonisan. Berbagai cara akan dilakukan oleh makhluk yang bernama syaitan ini untuk menghancurkan manusia yang berkasih sayang dalam naungan kasihnya Allah. Begitu halusnya makhluk ini mengemas berbagai ranjau, entah itu dari masa lalu kita, atau dari orang-orang di sekitar kita. Dan tanpa disadari, ternyata kita telah hanyut dalam pusaran arus yang menyesatkan hingga segalanya bermuara pada sebuah keputusan yang meski tidak diharamkan, namun sangat dibenci oleh Allah SWT yaitu “Perceraian”. Naudzubillahi min dzalik.....Semoga kita terhindar dari kehancuran seperti ini. 

Setiap orang pasti punya masa lalu sahabat. Dan mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus memahami bahwa masa lalu adalah bagian dari kehidupan kita. Tapi perlu diingat, masa lalu hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak episode hidup yang pernah kita lewati. Lalu, haruskah kita membiarkan bayang-bayang masa lalu menghancurkan kebahagiaan yang kini ada dalam genggaman?????

Tahukah mengapa kaca spion di mobil ukurannya jauh lebih kecil dibandingkan kaca depan mobil? Bagaimana cara kita melihat spion saat mengemudi? 

Bila kita mau cerdas berpikir, sesungguhnya banyak makna mendalam yang bisa diimplementasikan dalam hidup. Kita dapat melihat medan dihadapan kita dari kaca depan mobil, tanpa penghalang apa pun dengan jarak pandang yang memungkinkan bagi kita menghindar saat ada lubang, mengurangi kecepatan ketika melintas di atas tanggul, atau bahkan mengerem saat bahaya nyata di depan kita. Begitu luas dan lapangnya kaca depan mobil kita. Jalan yang terbentang dihadapan kita adalah masa depan yang akan kita lalui bersama orang-orang yang kita cintai. Itulah kondisi nyata yang ada di depan kita, yang nampak begitu jelas terlihat oleh mata kita dari balik kaca depan caravan yang kita navigatori dalam kendali kemudi suami kita. Tujuannya jelas, mendapatkan keridhoan NYA sambil menjaga amanah NYA menjadi seorang kalifatullah. 

Lalu bagaimana dengan kaca spion. Spion memang sangat bermanfaat agar kita bisa melihat kendaraan di belakang kita. Namun saat melihat, kita hanya melirik sesekali dan tidak terlalu lama. Masa lalu yang ada di belakang kita, hanya perlu kita tengok sesaat, untuk diambil pelajarannya, untuk diambil ibrohnya, namun sama sekali bukan untuk diingat-ingat apalagi dikorek-korek untuk kemudian dihidupkan kembali. Masa lalu adalah masa lalu, tak perlu membelenggu diri dalam kenangan masa lalu, seindah apa pun itu. Ingatlah, siapa pun diri kita saat ini, sehebat apa pun keberhasilan yang kita raih, semua itu tidak lebih adalah karena kasih sayang Allah pada hambanya yang mau berusaha, dan dukungan yang luar biasa dari orang-orang disekitar kita. Perlu dipahami, bahwa dibalik keberhasilan seorang suami, ada peran besar dari 2 wanita di dekatnya, yaitu ibu dan istrinya. Sedangkan keberhasilan seorang istri, tidak lebih karena keikhlasan suami mengijinkan sang istri beraktivitas di luar rumah. Semoga ini bisa jadi pengingat bagi kita semua, agar lebih menghargai pasangan kita, dan memahami betapa besarnya peran mereka dalam hidup kita, dengan segala keikhlasan dan ketulusannya......

Rabu, 26 Juni 2013

“Nasehat Kakek Ibrahim Kepada Cucunya: Sebuah Analogi Kehidupan”


Di sebuah gubuk kecil di kaki  bukit, tinggallah seorang kakek bersama cucu laki-lakinya. Kakek Ibrahim, demikian warga sekitar kaki bukit memanggilnya,  adalah sosok kakek yang sangat taat beribadah. Sebelum adzan berkumandang, sang kakek pasti sudah berada di surau kampung mereka. Sudah tentu ibadah sholat  5 waktu senantiasa dilakukannya  secara berjama’ah bersama penduduk desa yang lain. Tak lupa sang kakek membawa serta Farhan, cucu semata wayangnya ke surau agar pembiasaan beribadah secara berjama’ah melekat erat dalam benak sang cucu. Seringkali kakek Ibrahim ini memberikan tausyiah selepas sholat. Biasanya sih.....setelah sholat maghrib. Satu hal yang senantiasa kakek Ibrahim ulang-ulang  diakhir tausyiahnya adalah mengajak semua jama’ah untuk tidak lepas dari tilawah Al-Qur’an, sesibuk apa pun. “Jangan lupa, biasakanlah untuk membaca kalamullah setiap hari, setidaknya di salah satu waktu dari 5 waktu yang Allah wajibkan bagi setiap manusia bersujud menyembah Nya. Jika kita membiasakan diri untuk tilawah Al-Qur’an, insya Allah hati menjadi tenang. Sekalut apa pun batin kita karena berbagai masalah hidup yang kita hadapi, ambil saja Al-Qur’an, pasti sejuk rasanya hati kita. Bening lagi hati kita klo kita membiasakan diri tilawah Al-Qur’an” demikian kakek Ibrahim mengakhiri tausyiahnya suatu hari.

Alhamdulillah nasehat ini cukup kuat melekat dalam benak cucunya Farhan. Farhan pun senantiasa melakukan semua nasehat sang kakek, dibawah bimbingan kakek Ibrahim tentunya. Waktu terus berjalan. Farhan kecil pun kini telah memasuki masa remaja, fase dimana dia mulai bisa berlogika, berpikir kritis, dan meminta berbagai alasan yang logis dan rasional ketika disuruh melakukan sesuatu. Suatu hari Farhan bertanya kepada sang kakek “Kenapa sih kakek seringkali mengakhiri khutbah kakek dengan pesan agar kita membiasakan diri tilawah Al-Qur’an.  Apa iya klo kita baca Qur’an hati akan jadi tenang? Bagaimana bisa tenang sih kek....kita kan tidak tahu artinya” begitu Farhan berkata. “Walaupun tidak tahu artinya, baca saja, insya Allah hati kita akan merasa tenang. Karena hati kita lambat laun menjadi bening, dan kita akan bisa berfikir jernih kembali” jawab kakek Ibrahim singkat. Masih dengan berjuta tanya di kepala, Farhan terdiam. Pertanyaan seperti ini bukan hanya sekali dua kali disampaikan Farhan pada sang kakek. Sampai pada suatu hari kembali Farhan menanyakan hal yang sama pada kakek Ibrahim. “Farhan, mulai besok pagi tolong ambilkan kakek air di sungai dekat surau menggunakan tas ini” kata kakek Ibrahim sambil menunjukkan sebuah tas yang terbuat dari kain. “Maksudnya kek......” sahut Farhan dengan raut wajah keheranan. “Sudah, lakukan saja seperti yang kakek bilang. Ambilkan kakek air dengan tas ini setiap pagi sehabis kamu sholat subuh” jawab kakek ibrahim sambil menyerahkan tas kain yang sudah lusuh dan dekil  kepada Farhan, lalu beranjak keluar rumah meninggalkan cucu semata wayangnya dalam kebingungan. “Kakek sungguh aneh, aku bertanya tentang tilawah Al-Qur’an malah disuruh ambil air di sungai. Pake’ tas kain begini lagi, mana mungkin?” demikian gumam Farhan. Meski banyak hal yang ingin ditanyakannya pada sang kakek, namun akhirnya Farhan diam dan menyimpan tas itu di kamarnya.

Keesokan harinya, selepas sholat subuh berjama’ah dan tilawah di surau, mulailah Farhan menjalankan tugas baru dari kakek Ibrahim, mengambil air dengan tas kain. Sesampainya di tepi sungai, Farhan segera memenuhi tas kainnya dengan air sungai. Setelah menutup resleting tas nya, Farhan pun berjalan pulang. Baru beberapa langkah saja beranjak dari tepi sungai, air sudah mengucur di kedua sudut tas bagian bawah yang ia bawa. “Mana mungkin aku membawa air menggunakan tas kain seperti ini. Kakek sungguh aneh. Atau mungkin kakek marah padaku karena aku bertanya-tanya terus. Tapi emang bener kan apa yang aku tanyakan itu.....” gumam Farhan sambil terus berjalan dan menenteng tas yang sudah ia penuhi air menuju rumahnya. Tempat tinggal Farhan dan kakeknya memang tidak terlalu jauh dari sungai, tapi tetap saja Farhan tidak akan bisa membawa air menggunakan tas kain seperti itu. Ya iya lah.....it’s imposible, tidak mungkin Farhan akan dapat membawa air sebanyak kapasitas tas itu. Kalau pun mungkin ada air yang terbawa pastilah hanya sebagian kecil saja, atau bahkan mungkin hanya yang terserap di tas tersebut. “Kakek, tugas dari kakek sudah aku lakukan. Tapi lihatlah kek.....mana mungkin aku bisa membawa air menggunakan tas ini. Airnya keluar semua kek.....” ucap Farhan begitu sampai di depan rumahnya. Kakek Ibrahim yang sudah sejak tadi berdiri di halaman rumah tersenyum dan menjawab “Lakukan saja yang kakek minta nak.....Lakukan saja.....sekarang tolong kau siram pohon mangga yang ada di sudut halaman itu”. Mendengar ucapan sang kakek, Farhan kembali terdiam. Dia pun memutuskan untuk melakukan saja tugas itu, sambil terus berpikir apa kira-kira maksud kakeknya menyuruh melakukan semua itu. 

Demikianlah, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, Farhan dengan tekun melakukan tugas dari sang kakek dengan sabar. Tiga bulan 4 hari sudah Farhan melakukan tugasnya. “Kakek, apa sih sebenarnya maksud kakek menyuruhku mengambil air dengan tas ini. Kalau kakek ingin agar aku menyiram pohon mangga di halaman rumah kita, aku kan bisa mengambil air dari sumur di belakang menggunakan ember. Bukan hanya pagi kek, aku akan menyiramnya pagi sore. Atau jika kakek memang ingin aku menyiramnya dengan air sungai juga tidak apa-apa, aku akan mengambilnya di sungai. Pagi sore deh kek.....tapi pakai ember kek, bukan pakai tas kain seperti ini. Kalau pakai ember kan air yang kubawa bisa lebih banyak kek.....sedang kalau pakai tas ini, berapa banyak air yang terbuang kek....aku seperti melakukan hal yang sia-sia. Kain ini kan mempunyai daya kapilaritas kek.....dan itu membuat airnya terus menerus keluar. Untuk apa sih kakek menyuruhku melakukan semua ini, waktuku terbuang percuma, tenagaku juga........” papar Farhan pada sang kakek.

Dengan senyum penuh kearifan sang kakek menjawab sambil menepuk-nepuk bahu cucunya “Farhan cucuku yang sholeh, kakek senang kamu mau melakukan apa yang kakek perintahkan padamu walau pun sebenarnya hati kecilmu menolak. Kakek tahu kamu bingung dan kesal mendapat tugas ini. Tapi dengan sabar kamu terus melakukannya hingga 3 bulan lebih. Cucuku, coba perhatikan tas ini. Bagaimana warna tas ini ketika kakek berikan padamu dulu ?”  “Dekil, agak kecoklatan dan bau kek.....” jawab Farhan. “Lalu bagaimana warna tas ini sekarang ? Apakah masih dekil dan bau ?” sambung Kakek Ibrahim.  “Tidak kek....tas ini sama sekali tidak berbau lagi, warnanyapun sudah lebih bersih, tidak coklat seperti dulu lagi. Memangnya kenapa kek?” sahut Farhan masih dalam kebingungan.  “Seperti itulah yang akan terjadi pada hati kita ketika kita membiasakan diri tilawah Qur’an setiap hari. Kita memang tidak tahu artinya, tapi kita masih bisa membaca terjemahnya, walaupun mungkin akan terasa agak sulit bagi kita untuk memahami maknanya. Bisa jadi bisikan syaitan akan membuat kita merasa sedang melakukan hal yang sia-sia karena membaca Al Qur’an tanpa memahami maknanya, tapi ketahuilah cucuku....hati kita ini ibarat tas yang kamu gunakan mengambil air. Memang tidak semua air terbawa, mungkin banyak yang terbuang percuma, tapi tidak berbeda jauh dengan kain pembuat tas ini, hati kita pun seperti memiliki daya kapilaritas yang dapat menyerap cahaya kebenaran yang terpancar dari Al Qur’an yang kita baca setiap hari. Allah menciptakan setiap manusia dalam keadaan suci, putih bersih seperti kapas. Tapi dosa yang kita lakukan selama hidup sedikit demi sedikit membuat hati kita menjadi suram, semakin lama semakin gelap dan kelam. Namun bila kita rajin mencuci hati ini dengan tilawah Al Qur’an, walau pun hati ini tidak seputih bersih kondisi semula, tapi insya Allah tak akan lagi menjadi gelap dan kelam. Perlahan namun pasti, kecerahan itu akan menghiasi hati kita, dan ini terpancar dari sikap dan perilaku kita yang senantiasa berusaha menjauhi apa-apa yang tidak Allah sukai dan mengupayakan seoptimal mungkin untuk melakukan apa-apa yang Allah perintahkan. Kakek ingin kita semua termasuk dalam orang-orang yang disayangi Allah karena kita rajin membaca Al Qur’an cucuku, kakek ingin kita termasuk dalam golongan ahlul Qur’an.......”.

$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$

Mungkin suatu ketika pernah kita berada pada kondisi seperti yang dialami oleh Farhan cucu kakek Ibrahim. Kita selama ini senantiasa membiasakan diri untuk sedikitnya sekali sehari membaca Al Qur’an. Namun disaat kita sedang banyak didera masalah, dan kemudian bisikan syaitan sanggup menggoyahkan keyakinan kita, bisa jadi kita kemudian merasa sedang melakukan hal yang sia-sia. Naudzubillah.....tidak ada yang dapat kita lakukan selain memohon agar dikuatkan oleh Allah untuk senantiasa istiqomah dengan apa yang sudah kita lakukan. 

Allah SWT akan mengangkat derajat orang-orang yang selalu membaca Al Qur’an, kemudian mempelajari isi kandungannya dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim:

“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan kitab Al Qur’an dan Allah merendahkan kaum yang lainnya (yang tidak mau membaca, mempelajari dan mengamalkan Al Qur’an)”

Secara logika dapat kita pahami, mengapa orang-orang yang membaca dan mempelajari isi kandungan Al Qur’an serta berusaha mengamalkannya diangkat derajatnya oleh Allah SWT, karena orang-orang yang membaca Al Qur’an berarti orang-orang yang selalu dekat dengan Allah, bahkan membaca Al Qur’an merupakan komunikasi kita dengan Rabbull Izzati pencipta seluruh jagad raya.


Diantara keutamaan-keutamaan dari tilawah Al Qur’an lainnya adalah:


  • Setiap ayat Al Qur’an yang dibaca akan mendatangkan ketenangan dan ketentraman bagi pembacanya sebagaimana dijelaskan dalam QS Al-Isra’(17); ayat 82 bahwa Al Qur’an diturunkan Allah SWT untuk menjadi obat segala macam penyakit kejiwaan, sehingga para pembaca Al Qur’an bahkan orang yang mendengarkan bacaannya mendapat pula ketenangan jiwa.
  • Orang yang senantiasa membaca Al Qur’an akan mendapat syafaat di hari kiamat nanti, sebagaimana hadist Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim “Bacalah Al Qur’an oleh kamu sekalian, karena bacaan Al Qur’an yang di baca ketika hidup di dunia ini, akan menjadi syafaat/penolong bagi para pembacanya di hari kiamat nanti”.  Oleh karena itu, upayakanlah selalu untuk memperbanyak membaca Al Qur’an selagi Allah masih memberi kesempatan hidup, selama nafas masih terhembus, dan selama jantung masih berdetak. Jangan sia-siakan kesempatan yang ada di  waktu di yang masih Allah berikan 
  • Orang yang gemar membaca Al Qur’an akan senantiasa mendapatkan petunjuk dan kemudahan dalam menghadapi kehidupan ini karena Al Qur’an adalah cahaya ditengah kegelapan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, ”Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah dan Al Qur’an sesungguhnya ia adalah cahaya kegelapan, petunjuk di siang hari maka bacalah dengan sungguh-sungguh.” (HR. Baihaqi)
  • Ahlul Qur’an adalah keluarga Allah SWT. Baginda Rasul bersabda ”Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga dari kalangan manusia’,  Beliau (Rasulullah SAW) ditanya,’Siapa mereka wahai Rasulullah.’ Beliau (Rasulullah SAW) menjawab,’Mereka adalah Ahlul Qur’an, mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang khusus-Nya.” (HR.Ahmad dan Ibnu Majah)

Semoga kita dapat senantiasa istiqomah dan ghiroh untuk belajar Al Qur’an, memahami dan mentadaburi maknanya. Bukan hanya untuk diri kita sendiri, tapi lebih luas lagi adalah di lingkungan terkecil kita, keluarga kita, anak-anak kita, saudara-saudara kita. Akhirnya hanya kepada Allah lah kita berharap kasih sayang, agar senantiasa dimudahkan. 

)*Yuk semangat memperbaiki kualitas ibadah kita....

Jumat, 21 Juni 2013

Guru seperti apakah kita???? (Sebuah Refleksi Akhir Tahun Ajaran...)


“Aku enggak menikmati pekerjaanku saat ini kok..... Aku jadi guru kan daripada nganggur, lumayanlah buat kegiatan hari-hari, daripada bengong-bengong di rumah gitu.....”

 “Aku tuh... sering radha-radha enggak sabar gitu klo bocah diajarin enggak ngerti-ngerti. Ya....tapi klo ngajar mah...ya ngajar ajja dah, yang penting masuk, absen penuh, dan aku bisa refreshing sama temen guru yang lain. 

“Paling bete’ tuh klo aku udah ditagih yang namanya silabus, RPP, worksheet, dan konco-konconya....Ya....secara aku kan emang enggak punya basic keguruan gitu, aku ajja dulu kuliah di fakultas ekonomi. Ya....males gitu deh klo aku harus ngerjain yang begituan. Lagian ngajar mah enggak perlu harus pake rencana-rencanaan lah, kan apa yang mo kita ajarin sudah ada di kepala, tinggal ngomong-ngemeng di depan kelas, beres toh.....”

Nah lo.....guru kok begini ya statementnya,  jangan-jangan dia kesasar ajja jadi guru. Enggak bisa menyatu banget sepertinya dengan profesinya. Setiap pekerjaan kan ada tupoksinya, demikian pula dengan guru. Tidak hanya sekedar cuap-cuap di depan kelas thok, perencaan juga harus ada, supaya arah dan tujuan pembelajaran yang kita sampaikan tercapai. Apalagi jadi guru adalah pekerjaan “Hati Nurani”, yang kita hadapi adalah anak-anak, makhluk hidup yang punya jiwa, tentu beda dong dengan pekerjaan yang interaksinya dengan benda mati........gimana dong ?????

$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$

“Ya....aku sih profesional saja lah....ada uang ya ada kerja, proporsional gitu deh..... Ngapain juga kita kerja ngoyo-ngoyo. Sekolah ini cuma sanggup menggaji kita segitu, jadi ya segitu juga lah yang kita berikan. Klo mau minta kinerja yang lebih lagi dari kita, ya.....bayaran kita juga harus tinggi dong.....”

“Masa’ kita harus ngerjain tugas tambahan kayak gini....inventarisasi mobiler lah....administrasi kelas lah.....ada duitnya juga enggak.....gaji pas-pas’an ya kerjanya pas-pas’an juga lah......klo ada duitnya mah hayuk, klo tidak ya....maaf......”

Waduh.....inventarisasi mobiler perangkat kelas dan admin kelas itu kan bagian dari tugas wali kelas ya....kok masih nanya “duit” juga. Masih bisa dikategorikan profesional kah, jika segala sesuatu dinilai dengan uang? Termasuk bagian dari tugas pokoknya pun masih minta bayaran lebih.....guru bayaran kali ya.......

$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$

“Klo lagi libur panjang kayak gini, aku selalu kangen sama mereka. Apalagi klo aku kebagian ngajar kelas 1, ih.....keingetan lucunya bocah yang masih unyu-unyu itu. Walau pun kadang bikin kesel, tapi keluguan mereka langsung meruntuhkan keselku deh.... Namanya juga anak-anak, jadi perilakunya ya emang anak-anak banget, bukan nakal lah namanya......”

“Rasanya tuh....ada kepuasan dan kebanggaan tersendiri bagiku klo melihat mereka tumbuh jadi anak-anak yang cerdas, tidak hanya cerdas otaknya, tapi juga cerdas spiritualnya, memiliki akhlak yang baik dan perilaku yang santun pada semua orang”.

“Nah....saat libur panjang seperti ini nih, aku punya banyak waktu untuk bikin silabus, pemetaan standar isi, RPP, dan bikin-bikin media yang menarik,  biar pas ngajar semester depan aku bisa memberikan sesuatu yang lain yang lebih baik buat mereka....”

Subhanallah....klo ketemu guru yang begini, adeeemm deh pastinya kancah dunia pendidikan kita. Bayangkan, guru yang merupakan pencetak generasi penerus bangsa ini, memiliki integritas yang tinggi terhadap tugas dan profesinya. Guru ini benar-benar sadar bahwa profesinya adalah sebuah profesi yang harus dilakukan dengan “Hati Nurani”, karena tanpa itu sang guru tak akan mampu membentuk karakter anak didiknya menjadi kalifatullah yang membanggakan bagi Khaliq nya, kita sadarkan bahwa Allah menciptakan manusia itu bukan tanpa tujuan. Allah menghendaki semua ciptaan Nya bertasbih dan menyembah kepada Nya. Tujuan akhir pendidikan yang dilakukannya tidak semata-mata membuat anak cerdas secara intelektual, namun juga cerdas spiritualnya.

$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$

Guru kah profesi yang kita tekuni saat ini?

Guru adalah sebuah pekerjaan hati. Yang kita lakukan adalah kegiatan pembentukan karakter anak bangsa. Guru bukan sekedar mentransfer ilmu pada anak didiknya, tapi lebih dari itu guru punya tanggungjawab moral untuk menanamkan norma-norma hidup, kesantunan, dan akhlakul karimah. Oleh karena itulah seorang guru harus memiliki kompetensi kepribadian. Jika ingin membaguskan karakter orang, sudah barang tentu kita harus lebih dahulu membaguskan karakter diri kita. Sebagaimana Rasulullah SAW senantiasa mencotohkan ketika beliau menghendaki ummatnya mengikuti apa yang beliau sampaikan. Begitupun dengan guru, ketika guru menyampaikan nilai-nilai positif dalam hidup yang harus diikuti oleh anak didiknya, proses transfer value akan lebih mudah dilakukan bila guru telah lebih dahulu melakukan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. 

Lalu tipe seperti diri kita sebagai guru saat ini? 
Ada di level manakah kita dalam menjalankan profesi yang kita geluti sekarang? 
Apakah kita jadi guru karena terpaksa, karena tidak ada pekerjaan lain yang mau menerima kita? 
Termasuk “Guru Nyasar” kah kita saat ini? 

Boleh saja kita jadi guru tanpa memiliki latar belakang pendidikan yang relevan, (saya juga sih....bukan dari kependidikan kuliahnya dulu........  ^_^) tapi bila kemudian kita berusaha untuk menyatu dengan pilihan hidup sebagai guru, tentu kita akan punya ikatan batin yang kuat dengan anak didik ketika mengajar. Tentu kita memiliki semangat untuk belajar dan melengkapi diri dengan ketrampilan dasar yang harus dimiliki oleh seorang guru. Tentu kita akan dapat memaksa hati kita untuk belajar menyelami profesi yang kita pilih. Pepatah bilang "Ala bisa karena biasa", walau semula terpaksa, tapi jika kita enjoy dengan pekerjaan yang kita tekuni tentu lama kelamaan akan jadi suka. Nah....klo sudah begini, pastinya kita tidak termasuk dalam kategori "Guru Nyasar".

Atau barangkali kita termasuk guru bekerja dengan orientasi uang dan uang saja? Tidak bisa dinafi’kan bila setiap manusia membutuhkan uang. Namun bila dalam mendidikan anak guru berprinsip “gaji pas-pasan=ngajar pas-pasan”, sementara sebetulnya kita memiliki potensi lebih untuk mendidik anak lebih optimal, maka bisa jadi kita termasuk dalam kategori “Guru Bayar”. 

Menjadi guru adalah cara kita berbisnis dengan Allah yang kompensasinya akan kita rasakan di kehidupan sesudah hidup. Ini merupakan inventasi akhirat bagi kita. Bukankah kita tidak hanya mengharapkan bayaran di dunia dari manusia yang sifatnya fana, tapi lebih dari itu kita mengharapkan kasih sayang NYA pada kita di yaumil akhir nanti ? Kenapa pula kita harus menyia-nyiakan kesempatan bisnis di dunia yang sudah sangat jelas bayarannya dari Rabb Sang Maha Kaya ????

Sudahkah kita menjadi guru yang ikhlas, yang secara sadar telah menunjukkan integritas dan totalitas sebagai pendidik dalam mentransfer ilmu dan nilai kepada anak didik kita? Sudah kah kita menjadi seorang guru yang menyenangkan bagi siswa-siswi kita, menjadi guru yang senantiasa mereka rindukan kehadirannya setiap hari? Bahagiakah kita menjadi bagian dari keluarga besar komunitas yang bertekad mendidik anak bangsa yang berkarakter akhlakul karimah? Termasuk kategori "Guru Sadar" kah kita ???

Mari kita jujur pada diri kita sendiri. Biarlah ini menjadi sebuah kontemplasi sehingga kita benar-benar dapat meningkatkan profesionalitas dan integritas kita sebagai guru. Semoga kita mampu menjadi insan yang bertanggungjawab atas apa yang menjadi pilihan hidup kita sebagai seorang pendidik, karena hakekatnya menjadi guru adalah cara kita berbisnis dengan Allah yang tidak hanya memberikan keberkahan di dunia, namun juga di kehidupan kita sesudah hidup.

)*Semangat memperbaiki niat teman-teman guru.....

Kamis, 06 Juni 2013

“Kisah Tempayan Retak”......Representasi kepribadian kita kah?????


Alkisah, adalah seorang tukang air yang setiap hari mengantar 2 tempayan besar air ke rumah saudagar kaya di kaki bukit. Setiap pagi, lelaki ini memikul air dalam 2 tempayan yang digantung diujung pikulan yang dibawa menyilang di bahunya. Salah satu tempayan yang dibawanya retak, sedang yang lainnya utuh. Hal ini membuat si tukang air setiap harinya tak mampu membawa air secara optimal, karena tempayannya yang retak hanya sanggup membawa separoh air saja dari yang semestinya sanggup dibawa. Kondisi ini membuat “tempayan retak” menjadi bersedih hati, malu, dan merasa bersalah pada tukang air sebagai sang majikan. Sementara tempayan yang utuh, menjadi angkuh dan berbangga diri, sehingga merendahkan temannya si “tempayan retak”.

“Hei lihatlah tempayan retak.....berapa banyak air yang kau buang selama perjalanan kita, kau tidak lebih dari sebuah tempayan tua yang tidak sanggup lagi bekerja dengan baik. Lihat lah, bocor di tubuhmu itu membuat majikan kita tidak dapat membawa air sesuai ukuranmu. Kamu hanya besar badan saja, tapi kemampuanmu tidak ada. Coba lihat aku, aku selalu memenuhi badanku dengan air, dan membawanya sampai ke tujuan tanpa menumpahkannya. Kalau tidak ada aku, pastilah majikan kita harus bolak balik ke mata air di lereng bukit agar dia bisa menyelesaikan tugasnya” demikian “tempayan utuh” berujar dengan pongahnya pada temannya si “tempayan retak”.

Alangkah sedihnya “tempayan retak” mendengar ucapan “tempayan utuh”. Kian hari si “tempayan retak” ini kian murung, merasa tak berguna dan kecewa luar biasa. Sementara itu “tempayan utuh” kian bangga dan memandang sebelah mata pada teman kerjanya “tempayan retak”. Waktu terus bergulir, hari berganti hari, minggu berganti bulan, dan bulan pun berganti tahun. Genap 2 tahun sudah kedua tempayan ini setia menemani tukang air majikan mereka, mengantar air ke rumah saudagar kaya di kaki bukit. Suatu hari, saat batin tak lagi sanggup menahan kesedihan, “tempayan retak” berkata pada sang majikan.........”Maafkan aku tuan, selama ini aku tak sanggup melaksanakan tugasku dengan baik karena retakan di badanku ini membuat air yang kubawa setiap hari bocor dan terbuang percuma. Dan itu membuatmu rugi karena kamu hanya dapat membawa  air sebanyak satu setengah tempayan, sedang setengahnya hilang karena kebocoran di badanku. Untuk itu, maafkan aku, aku tak bisa bekerja maksimal”

Mendengar ucapan “tempayan retak”, sang majikan tersenyum sambil berkata “Ketika kita pulang nanti, cobalah kau lihat jalanan di sisi tempatmu berjalan saat kita berangkat membawa air”.   “Tempayan retak”  tak mengerti maksud sang majikan, namun dia hanya diam dan menurut saja. 

Benarlah, ketika pulang “tempayan retak” ini melihat bunga bermekaran indah luar biasa di sisi jalan yang biasa dilaluinya saat mengantar air bersama sang majikan. Meski dia masih belum mengerti maksud ucapan majikannya, tapi baginya keindahan yang baru saja dilihatnya cukup menghibur. Esok hari, ketika dia kembali bertugas membawa air dan mengantarkannya ke rumah saudagar kaya, kesedihan kembali muncul karena toh retakan di badannya tetep saja membuatnya tak sanggup membawa air satu tempayan penuh. Kesedihannya kian terasa manakala dia menangkap tatapan mata “tempayan utuh” partner kerjanya, yang selalu saja merendahkan dirinya. Senyum sinisnya seolah berkata “Dasar....tempayan yang tidak produktif”. Si “tempayan retak” ini pun kembali menyampaikan permohonan maafnya pada sang majikan. “Tuan...maafkan aku, aku benar-benar tak berguna. Aku sungguh malu pada diriku sendiri. Cacadku telah membuatmu rugi tuan......” ucap si “tempayan retak” penuh kesedihan.

Dengan bijaknya sang majikan berkata “ Wahai tempayan retak, apakah kau sudah memperhatikan bunga-bunga di sepanjang jalan disisimu yang setiap hari kita lalui ? Apakah kau melihat bunga-bunga nan cantik menghias sisi jalan itu ? Lalu coba perhatikan, apakah ada bunga-bunga di sisi jalan seberangnya tempat tempayan utuh berjalan ? Wahai tempayan retak, aku menyadari kekuranganmu. Tapi aku tahu, kekurangan itu tetap akan memberi manfaat. Oleh karena itu, aku lalu menebar benih-benih bunga di sepanjang jalan disisimu. Dan setiap hari, saat kita membawa air melewati jalan itu, kamu mengairi benih-benih bunga yang kutanam. Selama 2 tahun ini, aku telah dapat memetik bunga-bunga indah untuk menghias rumah saudagar kaya langganan kita. Dan itu membuatnya sangat senang. Tanpa kamu, mana mungkin rumahnya jadi indah ?”

***********************************************************************************

Bila boleh saya sintesiskan kedua tempayan dalam kisah diatas dalam kehidupan kita , banyak ibroh yang bisa kita petik. Boleh jadi kita adalah orang dengan watak seperti tokoh dalam kisah ini. Seringkali kita menjadi angkuh dan berbanggahati ketika kita dapat melakukan sesuatu lebih baik dari orang lain, ketika kita memiliki kedudukan lebih tinggi dari orang lain, atau bahkan seringkali kita merasa lebih pintar dari orang lain, lebih berpengalaman dari yang lain, hanya karena kita sudah lebih lama bekerja di suatu tempat misalnya. Hal ini kemudian membuat kita menjadi under estimated, meremehkan kemampuan orang lain, apalagi jika jelas-jelas orang tersebut secara kasat mata memiliki kekurangan. Kita menjadi sosok “tempayan utuh” yang angkuh. Seringkali kita tidak menyadari, bahwa dibalik kelebihan yang Allah berikan, pasti ada sisi lemah diri kita. Nobody’s perfect. Sesungguhnya, ilmu yang kita miliki tidak lebih dari seujung kuku bila dibandingkan dengan ilmunya Al-‘Alim, Dzat Yang Maha Berilmu. Lalu.....untuk apa kita menjadi pongah dengan ilmu yang hanya secuil kita miliki ? Tidakkah kita menyadari bahwa ilmu yang kita miliki itu tidak lebih dan tidak bukan bisa kita peroleh karena kasih sayang Allah yang telah memudahkan segala usaha kita saat menuntut ilmu ? 

Allah mengingatkan kita dalam Al Qur’an surah Luqman ayat 18:

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
 
Al Qur’an surah Al Hadiid ayat 23:

Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Masih beranikah kita bersikap angkuh ?????

Atau sebaliknya, kita adalah pribadi seperti “tempayan retak ” yang selalu mengungkung diri dalam sebuah belenggu bernama “keterbatasan”. Apakah selama ini kita selalu melihat kekurangan/kelemahan sebagai sebuah kendala yang membuat kita menjadi rendah diri ? Sadarilah, Allah menyandingkan segala sesuatu dalam hidup ini berpasang-pasangan, ada siang ada malam, ada laki-laki ada wanita, ada kaya dan miskin, begitu juga dengan kelemahan/kekurangan seseorang. Ketika Allah titipkan kekurangan  kepada kita, sesungguhnya Allah telah siapkan kelebihan yang sempurna. Seperti apa pun bentuk fisik seseorang, tetap saja dia adalah makhluk paling sempurna yang Allah ciptakan. Semua itu Allah titipkan bukan tanpa hikmah di dalamnya, bukan pula untuk dikeluhkesahkan. Allah menciptakan manusia tidak ada yang sia-sia. Dari sebuah kelemahan, seseorang mampu mengubah dunianya, jika dia mau berusaha dan melepaskan diri dari belenggu “keterbatasan”. 

Al-Qur’an Surat Al Israa’ ayat 70:

Manusia diberikan kelebihan yang sempurna seperti yang dijelaskan atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.

Tiap manusia pasti memiliki kelemahan/kekurangan, baik itu kekurangan secara fisik, atau pun kekurangan yang berupa permasalahan lain dalam dirinya. Selagi orang tersebut mampu menggerakkan berbagai potensi dalam dirinya secara optimal, maka dia akan mampu memtransformasikan kelemahannya menjadi sebuah kekuatan untuk memunculkan kelebihannya di bidang lain. 

Sadarilah bahwa Allah menciptakan manusia dengan berbagai kelemahan, bukan karena  Allah tak sayang pada hambaNya, atau pilih kasih pada orang lain, sementara pada kita Allah berikan begitu banyak kelemahan. Yakinilah bahwa ketika Allah titipkan kekurangan pada diri kita, sesungguhnya justru Allah telah memberikan keistimewaan kepada kita, karena Allah akan mengangkat derajat kita jauh lebih tinggi, jika kita mampu melewati cobaan tersebut dan memberikan manfaat kepada orang lain melalui kelemahan yang kita miliki. 


Adalah sebuah sunnatullah, jika manusia cenderung berkeluh kesah terhadap keadaan dirinya, namun jangan pernah menjadikan itu sebagai pegangan untuk selalu dan selalu berkeluh kesah menyesali kekurangan diri. Setiap orang di takdirkan dengan kelemahan dan kelebihan dalam berbagai porsi yang berbeda. Upayakan segala usaha seoptimal mungkin sehingga kelebihan kitalah yang mencuat, hingga tak ada orang yang menyadari akan kelemahan yang kita miliki, karena optimisme yang kita tunjukkan disetiap usaha yang kita lakukan. Ada baiknya kita fokus pada kelebihan yang Allah berikan pada kita, karena sejatinya tak ada satu pun makhluk bernama manusia yang Allah ciptakan tanpa kelebihan dalam dirinya. Semoga kita dapat senantiasa memanfaatkan setiap kekurangan diri, sebagai kekuatan untuk memunculkan kelebihan-kelebihan kita lainnya. 


)*Edisi motivasi diri
Yuk....berusaha menjadi pribadi yang senantiasa menebar manfaat....


Senin, 29 April 2013

Ketika Ikhlas Bertahta di Hati...


Siang  itu pak Hadi membelokkan sepeda motor GL Max nya ke halaman sebuah masjid di pinggir jalan. Jam di HP nya sudah menunjukkan pukul 13.40 WIB sementara dia belum melaksanakan sholat dhuhur. Setelah memarkir motornya, pak Hadi pun bergegas mengambil air wudhu. Sejuknya air kran cukup meredakan teriknya mentari yang membakar jalanan ibu kota, apalagi di bulan Ramadhan seperti sekarang ini. Orang bilang klo Ramadhan, rasanya jadi tambah panas. Ya…barangkali karena berpuasa, dan jumlah air yang dikonsumsi juga berkurang, makanya teriknya mentari membuat semakin exhausted ajja…..^_^.

Tak berlama-lama di tempat wudhu, pak Hadi segera menunaikan sholat dhuhur.  Setelah mengakhiri dzikirnya dengan sederet permohonan pada Sang Khaliq, pak Hadi berbaring di teras masjid sekedar meluruskan punggung yang sudah terasa pegel-pegel karena perjalanan melelahkan dari kantornya di bilangan pondok kelapa menuju depok, tempat tinggalnya. Sambil memejamkan mata, pak Hadi pun menikmati semilir angin dan sejuknya ubin masjid yang mulai merasuk ke tulang sumsum. Lelah karena energi yang terserap oleh panasnya cuaca siang itu sedikit terobati, berganti dengan raga yang terasa lebih segar, walau lapar dan dahaga jelas masih terasa, namanya juga lagi berpuasa….hehehee……^_^

Kesunyian dan kesejukan di teras masjid itu tiba-tiba pecah saat telinga pak Hadi menangkap isak tangis anak kecil. Kontan pak Hadi bangun dan duduk. Matanya berkeliling mencari sumber suara. Sejurus kemudian mata pak Hadi menangkap sesosok laki-laki berkoko putih mendekap erat anak laki-laki kecil yang menangis dalam gendongannya. Sementara 2 anak lainnya  diam memandangi wajah lelaki dewasa itu dengan tatap mata kosong sambil memegang ujung lengan koko putih lelaki itu. Sepertinya mereka adalah ayah dan anak. Tak tahan mendengar tangis sang bocah, pak Hadi pun bergegas menghampiri. Kalau sudah begini, yang terbayang dalam benak pak Hadi adalah kedua anaknya di rumah, yang semuanya laki-laki dan sebaya dengan mereka.

Singkat cerita, lelaki berkoko putih itu (sebut saja pak Firman) dan kedua anaknya adalah orang Sigli yang datang ke Jakarta untuk memulai usahanya dagang mie Aceh.  Namun 10  bulan di Jakarta sama sekali tak membuahkan hasil apa pun, modal mereka habis, dan saat ini mereka diusir oleh pemilik rumah petak karena sudah 5 bulan tak lagi sanggup membayar uang kontrakan. Yang lebih ngenes lagi, ibu dari ketiga anak itu (istri pak Firman) baru sebulan yang lalu meninggal karena DB yang tak sempat diobati. Lagi-lagi karena keterbatasan biaya. Innalillahi wa inna ilaihi roojiun…..Seketika itu pak Hadi merasakan tubuhnya seperti mengambang, kakinya serasa tak menyentuh ubin, lemas rasanya karena haru mendengar kisah pak Firman. “Rabb……sungguh, ternyata Engkau sangat menyayangiku. Terima kasih karena tak Kau berikan ujian padaku seberat apa yang dialami lelaki di hadapanku ini,” batin pak Hadi. Tak terasa bulir bening perlahan mengembang di sudut kedua matanya yang mulai terasa panas. 

“Saya tak tahu harus bagaimana lagi pak, saya tak punya tempat tinggal, saya tak punya sepeser uang pun untuk sekedar membelikan anak-anak minum saat mereka berbuka puasa nanti. Hari ini saja anak-anak saya hanya sahur dengan air putih” sambung pak Firman sambil menunjuk botol air mineral dalam genggaman anaknya yang masih tersisa beberapa teguk lagi. Sudah dapat ditebak, pak Hadi tentu tak tega mendengar kisah ayah anak ini. Spontan pak Hadi mengambil dompetnya dan mengeluarkan 2 lembar uang 50.000 an, lalu menyerahkannya kepada pak Firman. Binar kesyukuran jelas terpancar dari mata pak Firman sambil menjabat erat tangan lelaki dihadapannya seraya mengucapkan kata terima kasih yang disambut dengan senyum keikhlasan oleh pak Hadi. 

“Maaf pak, sebenarnya saya ingin pulang ke Aceh, tapi saya tak punya ongkos” ucap pak Firman lirih. “Apakah bapak bisa membantu saya? Saya ingin menjual HP saya ini, tapi kalau saya jual ke counter, cuma ditawar 200 ribu, padahal saya menjual HP ini agar bisa pulang ke Aceh” papar pak Firman sambil mengeluarkan sebuah HP nokia jadul 6610 nya. Masih dengan perasaan yang mengharubiru, pak Hadi bertanya “Bapak maunya HP itu dihargai berapa?”   “Ya…pokoknya asal saya bisa sampai ke kampung pak, saya akan menitipkan anak-anak ini pada neneknya di kampung. Setelah itu saya akan kembali untuk  ikut dagang nasi goreng dengan teman yang tinggal di Tanjung Priuk. 1 juta cukup lah untuk transport  kami pak…” sahut pak Firman. Sejenak pak Hadi tertegun. Namun sejurus kemudian dia merogoh kembali saku celananya dan mengambil dompetnya sambil berkata  “Begini ya pak, saya tidak berniat membeli HP bapak, saya hanya ingin membantu bapak. Ini 1 juta yang bapak butuhkan. Semoga perjalanan bapak ke kampung lancar. Bila suatu saat bapak ingin mengambil lagi HP ini, silahkan datang ke kantor saya. Ini kartu nama saya.” papar pak Hadi sambil menerima HP pak Firman dan menyerahkan uang serta kartu namanya. Pak Firman pun menyambutnya dengan wajah penuh kebahagiaan dan rasa terima kasih yang tak terhingga. Subhanallah…..kejadian yang rasanya sangat jarang terjadi dijaman seperti sekarang ini ya……

Setelah berpamitan kepada pak Firman, pak Hadi pun bergegas meninggalkan serambi masjid menuju pelataran parkir.  Ia akan segera melanjutkan perjalan pulangnya. Sore itu ia ingin sekali mengajak sang istri dan kedua anaknya ngabuburit, menunggu saat berbuka puasa sambil berwisata kuliner mencari ta’jil. Kebetulan hari itu ia baru saja menerima THR dari kantor tempatnya bekerja. Pak Hadi pun mempercepat laju GL Max nya. Sesampai di rumah, anak-anak sudah menanti dan mereka pun melewati senja dengan penuh keceriaan, dilanjutkan dengan tarawih di masjid komplek tempat tinggal pak Hadi.

Seusai tarawih dan bercengkerama bersama keluarnya,  tibalah waktu beristirahat. Kedua anak pak Hadi sudah masuk ke kamarnya. Pak Hadi dan istri pun bergegas untuk beristirahat. Seperti biasanya, pak Hadi dan istri selalu menyempatkan diri untuk saling bertukar pengalaman hari itu, sesaat menjelang tidur.  Ini adalah kebiasaan mereka, menjaga kemesraan dan keharmonisan rumah tangga dengan menjalin komunikasi yang berkualitas, walaupun dengan kuantitas yang terbatas. Pak Hadi menceritakan pengalamannya di masjid siang tadi. Diakhir cerita, pak Hadi ungkapkan kegalauan hatinya mengingat hampir separo THR yang diterima hari itu sudah diserahkan kepada pak Firman di masjid siang tadi. “Maaf ya bu, ayah sudah mengeluarkan uang tanpa meminta pendapat ibu dulu. Dalam jumlah besar lagi…..Ayah sungguh tak tega melihat anak-anak pak Firman, jelas sekali menahan lapar, apalagi mereka menjadi piatu karena belum lama ibu mereka meninggal. Kasihan sekali mereka…..Tapi bagaimana dengan rencana kita pulang ke Sukoharjo ya bu…..Ayah nggak tau harus bagaimana ini, padahal mbah putri sudah wanti-wanti meminta kita pulang, sejak sebelum Ramadhan lagi mbah putri  ngomongnya. Harus bagaimana ya bu…..” ucap pak Hadi pelan, khawatir istrinya akan marah. Namun diluar dugaan, ternyata ibu Mirna, istri pak Hadi sama sekali tidak marah. “Ya sudah lah ay…niatkan saja semuanya karena Allah, semoga saja ini jadi tambahan amal ibadah kita di bulan yang penuh berkah. Soal biaya pulang kampung ya nanti coba kita hitung ulang deh….kalau perlu kita naik kereta yang ekonomi saja, yang penting keangkut. Tapi saat mau naik keretanya ayah gendong Fadhil ya….biar Fahmi ibu yang nggandheng. Klo puasa-puasa ibu suruh nggedhong kan berat ay…..Sudah ah, kita tidur yuk….besok kesiangan lagi sahurnya” jawab bu Mirna mengakhiri pembicaraan. “Tapi bu, ayah kan kemarin juga sudah terlanjur janji sama Fadhil dan Fahmi mau belikan mereka baju koko masing-masing 2 stel. Koko mereka kan sudah belel semua, ibu lihat sendiri kan…untuk sekedar “ngekonomi” pun ayah sangsi bu….Uang kita nggak cukup klo harus buat beli baju koko juga, belum lagi oleh-oleh untuk mbah putri, pak lik dan bulik…… ” Sambung pak Hadi yang masih belum berniat menghentikan pembicaraan. “Ih….ayah ini bandel banget deh, tiii..duuurrr……” sahut bu Mirna sambil menarik selimut. Pak Hadi pun akhirnya menghentikan pembicaraannya. Disimpannya berbagai tanya yang menyeruak di benak, ke dalam lubuk sanubarinya. 

Disela  kegalauan dan kecemasan tentang kebutuhan jelang Idul Fitri, ada kesyukuran dan kebahagiaan yang tak terhingga karena ternyata istrinya begitu memahami kejadian yang baru saja dialaminya. Begitu lapangnya hati sang istri menerima segala yang terjadi tanpa rasa kesal sedikit pun, apalagi marah-marah. Padahal sederet rencana menyambut datangnya Idul Fitri sudah disusun sedemikian rupa, dan sekarang semuanya harus berubah. Alhamdulillah, ternyata pemahaman istrinya tentang makna “ikhlas” cukup bagus, kepasrahannya pada Rabb Yang Maha kaya begitu tinggi, sehingga ia mampu menyikapi qadar Nya dengan penuh kesabaran.

Demikianlah waktu terus berjalan, dan karena bu Mirna ingin dapat menyisihkan sebagian uang belanja untuk menambah anggaran pulkam mereka, maka bu Mirna pun mengerahkan segenap kemampuannya untuk memanage uang belanja sedemikian rupa sehingga dengan pengeluaran secukupnya, ia tetap mampu menyajikan menu berbuka dan makan sahur yang berkualitas untuk keluarganya. Sampai pada suatu hari, hanya beberapa hari sebelum rencana pulkam mereka, tiba-tiba bu Mirna mendapat telpon dari salah satu redaktur majalah wanita muslim yang mengabarkan bahwa beberapa tulisan bu Mirna yang pernah dikirim akan segera diterbitkan secara bertahap dalam beberapa nomor penerbitan. Dan untuk itu bu Mirna akan mendapatkan honor menulis sebesar 2 juta rupiah. Bu Mirna memang orang yang senang menulis. Berbagai artikel tentang pendidikan dan parenting sering menghias blognya. Dan beberapa waktu lalu, bu Mirna mencoba mengirimkan tulisan-tulisan tersebut ke redaktur majalah wanita Islam. Hitung-hitung mengukur kemampuannya menulis lah…..Dan Alhamdulillahnya, kali ini semua tulisannya lolos, siap naik cetak, dan honornya pun sungguh diluar dugaan.


QS. Ath Thalaq 2-3:
 “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan (Dia) memberinya rezeki dari arah tiada disangka-sangkanya”.
 Ibnu Katsir menafsirkan, ”Maknanya, barang siapa yang bertakwa kepada Allah dengan melakukan apa yang diperintah Nya dan meninggalkan apa yang dilarang Nya, niscaya Allah akan memberi jalan keluar serta rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka yakni dari arah yang tidak pernah terlintas dibenaknya.”

Subhanallah…..kita memang tak pernah tahu dari pintu yang manakah Allah akan mendatangkan rizki bagi ummat Nya. Dibalik kesempitan yang sedang kita hadapi, ternyata Allah sudah menyiapkan kelapangan yang luar biasa. 

Keikhlasan keluarga ini untuk membantu sesama, berinfaq di jalan Allah telah Allah balas dengan cara yang sangat indah. Keikhlasan pak Hadi menolong pak Firman dilakukannya tanpa pamrih, semata-mata hanya untuk beribadah dan beramal mengharap keridhoan Rabb Sang Maha Pengenggam Kehidupan. Sama sekali bukan berharap untuk dipuji, apalagi disanjung sebagai “sinterklas” atau “dewa penolong” bagi orang lain. Demikian pula dengan ibu Mirna, keikhlasannya menerima segala sesuatu yang sudah menjadi Ketetapan Allah Azza Wajalla, membuatnya tidak merasa kecewa walaupun THR sang suami harus berkurang hampir separohnya untuk orang asing yang sama sekali tidak mereka kenal sebelumnya. Seandainya kita yang mengalami hal seperti ini, mungkin akan susah bagi kita berkhusnudzon, yang ada kita akan menyangka itu hanyalah tipu-tipu dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab.  

QS Saba’: 39
“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rizki yang sebaik-baiknya”

Rasullullah SAW sebagaimana diriwayatkan oleh HR Muslim bersabda:
“Allah berfirman: “Wahai anak adam, berinfaklah, niscaya aku berinfak (memberi rizki) kepadamu.”

Bila selama ini belum ada keikhlasan di hati kita untuk peduli pada orang-orang disekitar kita, bila selama ini kita cenderung memilih untuk bersikap “pelit” apalagi “kikir” untuk berbagi pada sesama, mungkin sekaranglah saatnya bagi kita untuk melatih diri peduli pada lingkungan. Kepedulian yang ikhlas ini tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk materi, namun dapat pula berupa support, pemikiran, atau bahkan mungkin dengan tenaga. Janji Allah adalah pasti. Setiap kebaikan yang kita lakukan dengan keihlasan, hanya mengharap keridhoan Allah semata, insya Allah akan menjadi pemberat timbangan amal kebaikan kita di yaumil akhir nanti. Imam al Ghazali menegaskan, ikhlas adalah shidqun niyyah fil ‘amal. Dengan kata lain, setiap amal saleh dan kebajikan yang ingin dilakukan semestinya berorientasi karena Allah. 
Wallahu alam bissowab.



)*Salam ikhlas tuk raih ridlo Illahi.

Jumat, 12 April 2013

Berhentilah Menjadi Jiwa Pengecut




"Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kamu menjadi orang yang tidak mempunyai sikap. Bila orang melakukan kebaikan maka aku pun melakukannya. Namun bila orang melakukan keburukan maka aku pun ikut melakukannya juga. Akan tetapi jadilah orang yang punya sikap dan keberanian. Jika orang melakukan kebaikan maka aku melakukannya. Namun jika orang melakukan keburukan maka aku tinggalkan sikap buruk mereka.” (Tirmidzi)

Pernahkah menjumpai orang yang selalu ingin berada di zona aman? Tak pernah mau ambil resiko, hingga akhirnya tindakan yang dilakukannya merugikan orang-orang disekitarnya termasuk kita?

Mungkin jawabnya “PERNAH/SERING”.

Di tempat kerja misalnya, demikian heterogennya komunitas tempat kita berinteraksi memungkinkan munculnya berbagai konflik kepentingan dari setiap individu yang akan berimbas pada kenyamanan posisi dan eksistensi seseorang. Dari pada kena complain/marah, mending bilang “nggak tau ajja dah….” 

Kalimat seperti ini tak jarang muncul dari pribadi-pribadi yang demen pada Zona Aman. Mungkin bisa dikatakan ini adalah komunitas “Pengecut” yang selalu ingin menghindar dari complain  (terutama dari atasan). Walau mungkin tidak selalu si “Pengecut” ini bermaksud melemparkan tanggung jawab pada orang lain, namun sudah bisa dipastikan, akan ada pihak yang dirugikan karena sikap “cuci tangan” sang pengecut
.
 “Aku nggak tau soal itu, aku sih sebenernya cuma mengajukan proposal ini ajja, tapi nggak tau menahu soal asumsi-asumsi yang digunakan dalam RAB itu, apalagi nominalnya ……”

Demikian seorang pengecut berkelit ketika dikomplain oleh atasannya perihal RAB dalam sebuah proposal kegiatan yang sedang diajukan. Memang proposal itu bukan hasil pemikirannya, ada orang lain yang berbaik hati membantu sang pengecut yang kebetulan menjadi penanggungjawab sebuah kegiatan untuk menyusun proposal. Tapi logiskah bila seorang penanggung jawab sebuah kegiatan yang nota bene harus tau segala sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan yang akan dilaksanakan dengan enteng mengatakan “Nggak tau” ketika ditanya tentang isi proposal yang diajukan???? Enggak masalah klo proposalnya dibuatin orang, tapi sebagai PJ, memahami konten dari proposal yang diajukan, apalagi sudah dibubuhi tanda tangan sang PJ adalah suatu keharusan. Aneh bukan bila orang yang sudah menyatakan diri sebagai penyusun proposal melalui tanda tangannya, lalu tidak bisa menjelaskan konten tulisan dan RAB yang dibuatnya……

Bagi orang yang berjiwa pengecut, tentu lebih mudah melemparkan tanggung jawab pada orang lain dengan mengatakan “aku nggak tau, si “anu” yang membuat, jadi aku nggak tahu kenapa asumsi itu digunakan dalam proposal ini…..”. Kembali sang PJ berkelit manakala dicecar berbagai hal berkaitan dengan apa yang diajukan dalam proposal. Kalau masih bisa bersembunyi di balik nama orang lain, kenapa harus menanggung resiko sendiri????? Itu lah prinsip dari orang yang berjiwa pengecut. Orang-orang yang tidak berani “menjawab” complain, tidak mau menanggung resiko atas segala sesuatu yang dilakukan/diucapkannya, walau pun itu menjadi tanggungjawabnya. Orang-orang seperti ini cenderung menjadi pribadi yang tidak tegas, dan seringkali menggunakan air mata/wajah “melo” nya sehingga kondisi menjadi dramatis, mengharap belas kasihan orang di sekitarnya, sehingga seolah-olah sang pengecut menjadi orang yang paling berat menanggung beban sebagai PJ sebuah kegiatan, dan stress karena harus mengerjakan berbagai tugas sendirian. Harapannya akan timbul rasa iba dari atasannya, dan terbentuklah persepsi-persepsi yang tidak menguntungkan bagi teman dalam satu tim. Dalam konteks “team work”, orang-orang dengan kepribadian pengecut seperti ini jelas akan sangat merugikan anggota dalam tim tersebut, bahkan bukan tidak mungkin akan menimbulkan persepsi pimpinan seolah-olah ada ketidakkompakan kinerja dalam tim tersebut.

        ***********************************************************************

Kejadian diatas mungkin hanya sebuah contoh kasus kecil yang pernah kita temui di dunia kerja, namun dari situ kita dapat mengambil pelajaran bermakna. Mari kita lihat diri kita, apakah selama ini kita pernah bersikap seperti contoh diatas, atau perilaku-perilaku lain yang bisa disintesiskan dengan contoh ini, atau bahkan mungkin lebih parah lagi?????

Lalu akankah kita membiarkan diri kita menjadi seorang “pengecut” yang seringkali mengakibatkan kerugian bagi orang-orang di sekitar kita????? Akankah kita terus menerus menjadi pribadi yang tidak punya pendirian, dan selalu mencari “kambing hitam” demi keamanan dan kenyamanan diri sendiri????? Sampai kapan kita akan membiarkan diri kita menjadi orang yang tidak peduli pada orang-orang disekitar kita, menyakiti mereka, hanya demi “keselamatan” diri sendiri, padahal orang-orang tersebut telah demikian baik dan senantiasa membantu kita dalam banyak hal???? Pernahkah kita berpikir, bagaimana seandainya kita menjadi “mereka”, menjadi pihak yang dirugikan oleh orang lain hanya karena kepengecutan orang tersebut???? Sakit nggak ya kira-kira……Mari kita berinterospeksi diri. Muhasabah sepertinya  menjadi pilihan yang terbaik bagi kita.

Sadarilah, membiarkan diri menjadi insan dengan jiwa pengecut yang tumbuh subur, hanya akan membuat diri kita menjadi seorang pecundang. Mudah dipermainkan orang, sulit menghadapi persaingan, tak akan pernah dianggap oleh lingkungan sekitar, bahkan mungkin orang akan under estimate pada kita, karena lingkungan sekitar yang sudah sangat paham dengan karakter kita yang tak punya pendirian/sikap. Orang-orang yang tak punya sikap seperti ini akan menjadi duri dalam daging saat harus bekerja sama dalam sebuah tim. Bagaimana tidak, untuk menghindari teguran/complain dari atasan atau pihak lain, “sang pengecut” yang tak punya sikap, bisa saja menggadaikan kekompakan tim nya. Sudah seharusnyalah sikap pengecut seperti ini tidak dipelihara. Jika boleh ekstrim saya katakan, wajib hukumnya bagi kita untuk terus memperbaiki diri menjadi pribadi yang tegar, siap menerima resiko apa pun, serta berani menjawab complain dalam bentuk apa pun dan dari siapa pun seoptimal mungkin. Ketika ada pihak-pihak yang ingin menggali informasi, hindari kata “tidak tau” yang selama ini sering kita gunakan untuk mengamankan diri (tidak mau ambil resiko), padahal sebenarnya kita tau apa yang terjadi. Apalagi jika memang hal yang ditanyakan berkaitan erat dengan tanggung jawab kita. Terlebih lagi jika memang kita lah yang melakukan sebuah kesalahan. Belajarlah untuk berani bersikap, berani mengambil resiko, dan berhentilah menimpakan kesalahan pada orang lain dari sekarang. Ingatlah, orang yang senantiasa bersembunyi dibalik “zona aman” tidak lebih dari seorang pecundang. Maukah kita menjadi pribadi seperti ini??????

Hidup punya banyak pilihan, tentang hal yang baik dan buruk. Tentukan pilihanmu, lakukan yang terbaik!!!! Dan pilihan itu tentu saja adalah “Melatih diri untuk menjadi pribadi yang punya sikap dan keberanian” sebagaimana dicontohkan oleh uswah hasanah kita Nabiyullah Muhammad SAW dalam sabda beliau yang diriwayatkan oleh Tirmidzi seperti tertulis dalam kutipan awal tulisan ini. Semoga kita dapat senantiasa memperbaiki diri, dan terhindar dari jiwa pengecut yang cenderung menimpakan kesalahan pada orang lain, yang pada gilirannya akan merugikan orang-orang di sekitar kita.



)*Edisi bulan galau penuh kecewa