Rabu, 23 Januari 2013

Stress Dalam Bekerja, Mengapa bisa terjadi???



Bekerja merupakan usaha seorang individu agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Berbagai ekspektasi muncul sebagai konsekuensi logis dari ”Kondisi Bekerja” tersebut. Adalah sebuah kewajaran bilamana tidak semua keinginan ataupun kebutuhan karyawan akan dapat tercapai. Ketidakberhasilan lembaga atau perusahaan, keterlibatan karyawan dalam konflik baik konflik personal maupun konflik tugas, serta ketidakmampuan perusahaan memenuhi kebutuhan maupun keinginan karyawan merupakan salah satu faktor yang menimbulkan stress di kalangan karyawan. 

Stres merupakan ketidakmampuan mengatasi ancaman yang dihadapi oleh mental, fisik, emosional dan spiritual manusia yang pada suatu saat dapat mempengaruhi kesehatan fisik manusia tersebut. Sebenarnya stres adalah persepsi kita terhadap situasi atau kondisi di dalam lingkungan kita sendiri. Menurut Hager stress sangat bersifat individual dan pada dasarnya bersifat merusak bila tidak ada keseimbangan antara daya tahan mental individu dengan beban yang dirasakannya. Sebenarnya terganggu atau tidaknya individu, sangat tergantung pada persepsinya terhadap peristiwa yang dialami. Jadi faktor kunci dari stress adalah persepsi seseorang terhadap sebuah situasi dan kemampuannya untuk menghadapi situasi tersebut. Stressor yang sama dapat dipersepsikan berbeda-beda, bisa dipersepsikan positif dan tidak berbahaya atau justru sebaliknya menjadi sebuah ancaman yang membahayakan. Penilaian kognitif individu dalam hal ini sangat menentukan apakah stressor itu berakibat positif atau negatif. Penilaian kognitif yang berbeda pada masing-masing individu ini disebabkan oleh cara pandang yang berbeda terhadap sumber stress tersebut. 

Pemicu timbulnya stress dalam bekerja

Sejatinya stress adalah sebuah pengalaman subyektif yang dapat dievaluasi secara obyektif. Mengalami stress adalah bagian dari kehidupan manusia, dimana stress ini dapat berdampak pada timbulnya penderitaan atau sebaliknya menyertai sebuah kegembiraan. Didalam dunia kerja, hampir setiap pekerja pernah mengalami penyakit yang disebut “stress”. Terdapat beberapa hal yang menyebabkan terjadinya stress kerja, mulai dari perubahan ekonomi sampai pada kemajuan teknologi yang sangat cepat. Secara garis besar penyebab terjadinya stress kerja dapat dikelompokkan dalam tiga kategori, yaitu penyebab organisasional, individual dan penyebab lingkungan. Diantara pemicu munculnya stress kerja adalah, dikejar deadline, umpan balik tentang supervisi kerja yang tidak baik, tugas yang menumpuk, beban kerja yang berlebih baik secara kualitatif maupun kuantitatif, ketidakjelasan peran, ambisi berlebihan, jenjang karir yang tidak jelas, konflik intern pekerja, sampai masalah pribadi karyawan (seperti masalah keuangan keluarga, pertengkaran suami istri, dll). Lebih jauh, stress dapat berdampak pada menurunnya kondisi tubuh seperti sakit kepala, migrain, alergi, dan lain-lain. Secara psikologis stres dapat menyebabkan insomnia, pemurung, dan sulit konsentrasi.

Setiap individu mempunyai toleransi  yang  berbeda-beda dalam menghadapi keadaan  stress. Ada orang yang mudah sedih hanya karena peristiwa ringan, namun tidak sedikit yang  tetap tenang dalam menghadapi stress/tekanan yang terjadi. Hal ini disebabkan oleh rasa percaya diri individu pada kemampuannya mengatasi stress yang terjadi. Reaksi seseorang terhadap stress ini dipengaruhi oleh tingkat kedewasaan/kepribadian individu serta tingkat pendidikan dan pengalaman hidup. 

Manajemen Stress

Seseorang dapat mengalami berbagai ketidakpastian, kecemasan dan tekanan yang memotivasinya untuk melakukan sesuatu, sehingga berhasil dalam mencapai keinginan dan cita-cita. Kemampuan seseorang untuk memusatkan perhatian dan memotivasi diri hingga dapat membantu meningkatkan pencapaian tertentu dan pengembangan diri disebut eustress yang berarti stres baik yang berdampak positif di mana seorang individu mampu mengatasi tuntutan, tantangan dan kondisi tekanan yang dihadapi. Namun bila tuntutan-tuntutan tersebut sampai kepada titik di mana seseorang merasakan kegagalan atau kehilangan kemampuan untuk mengatasinya, maka situasi tersebut kemudian dikenal sebagai dystress yang berarti stres buruk yang berdampak negatif. Dalam kondisi demikian seseorang cenderung merasa kewalahan dan kehidupan terasa di luar kendali karena kecemasan berlebihan, rasa takut, kepanikan, kebingungan dan kecenderungan putus asa yang menghantui dan berakibat kebuntuan, ketumpulan, kemandulan dan kontra produktif. 

Sudah seharusnyalah setiap muslim senantiasa berusaha untuk tidak mudah berputus asa karena Allah Yang Maha Kuasa mengajarkan optimisme kepada manusia untuk tegar, bangkit, bergairah, dan penuh harapan atas pertolongan Allah serta melarang stres yang mengantarkan kepada keputusasaan sebagaimana firman-Nya yaitu  “dan hanya kepada Rabbmu lah hendaknya kamu berharap”. 

Hakikatnya stres merupakan gejala harian yang wajar dan setiap orang pasti mengalaminya dan bukan sesuatu yang harus disembunyikan, tetapi ia tak ubahnya seperti tantangan lainnya yang harus dihadapi dalam hidup. Oleh karena itu stres bukan untuk ditakuti melainkan justru kita harus berani mengatasinya dengan pengelolaan dan pengendalian stres dengan sikap dan mental positif yaitu dihadapi dengan kepala tegak (saya tidak takut menghadapinya), percaya diri (saya bisa mengatasinya); optimisme solusi (apa yang harus saya lakukan terhadapnya); pengendalian (saya akan mengendalikannya), penerimaan (stres memang bagian hidup yang alamiah), perencanaan (bagaimana saya akan mengatasinya), dan dengan bantuan pihak lain jika memang diperlukan.

Stres bila dikelola dengan baik dapat menjadi motivator dan energi hidup, namun stres yang berlebihan berpotensi melemahkan, sehingga dapat menurunkan efektivitas kekebalan tubuh dan kerentanan terhadap penyakit ringan (seperti flu dan infeksi), dan dapat pula menjadi penyebab tekanan darah tinggi, sakit kepala, diare, gangguan pada pencernaan dan pembuangan serta kelainan dan penyakit lainnya yang sering disebut sebagai gejala Phsycomatis. 

Setiap individu bertanggung jawab sepenuhnya terhadap bagaimana stres mempengaruhi dirinya. Dalam manajemen stres, setiap individu harus mampu mengidentifikasi gejala-gejala stress yang mungkin timbul, kemudian mendeteksi faktor-faktor penyebab stress sehingga mampu mengendalikan, mempertahankan, dan mengubah ”stress” menjadi sebuah motivasi. Bisa atau tidaknya ”stress” dikendalikan sangat tergantung pada mau tidaknya seseorang menjadi pengendali stress yang efektif, membuang mental kalah, dan tidak memposisikan diri sebagai korban stress.

Rosulullah Muhammad SAW adalah figur teladan dan sosok manusia berjiwa besar. Beliau pun dalam mengendalikan stress senantiasa berjuang keras, melakukan evaluasi harian, dan doa setiap pagi dan petang (dzikir Al-Ma’tsurat) agar Allah senantiasa melindungi dari 8 penyakit mental yang bersumber dari stress, yaitu: obsesi/pikiran yang mengganggu (hamm), kesedihan (huzn), ketidakberdayaan (‘ajz), kemalasan/ kurang motivasi (kasal), kekikiran (bukhl) dan ketakutan (jubn), problem keuangan (ghalabat dain) dan tekanan orang lain (qohrir rijal).

"Allaahumma Innii A'uudzubika minalhammi wal khazani, Wa A'uudzubika minal 'ajziwalkasali, Wa A'uudzubika minaljubni wal bukhli, Wa A'uudzubika mingholabatiddaini waqohrirrijaali"

Ya Allah, aku berlindung kepada MU dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan bakhil, dari beban hutang dan kesewenang2'an orang lain"  (Dzikir Al-Ma’tsurat)

Terapi lain yang cukup mujarab dan efektif dilakukan untuk mengendalikan stress diantaranya adalah: memperbanyak sholat sunnah dengan khusyu’, menghayati dan memahami asmaul husna, tadabbur Al-Qur’an, membaca kisah-kisah teladan dan kisah sukses tokoh-tokoh yang bangkit dari kegagalan, memperbanyak dzikir, rekreasi, olah raga, bercanda dengan humor yang sehat, membaca buku dan sharing yang bermanfaat, dll. Orang yang hebat bukanlah orang yang tidak punya masalah apalagi yang lari dari stres dan masalah. Orang yang hebat adalah orang yang mampu menghadapi masalah tanpa bermasalah baru dan mengelola stres dengan baik sehingga mampu mengubah stres menjadi sebuah motivasi untuk mencapai keberhasilan dan bangkit dari kegagalan.  Hendaknya kita menyadari bahwa segala peristiwa hidup merupakan ujian iman untuk menempa karakter manusia yang harus dihadapi sebagai bahan peningkatan kualitas diri dan bukan untuk dihindari. 

)*Dari berbagai sumber.

2 komentar:

  1. agar tidak stress dalam bekerja, ya disamping perbanyak zikir, sholat - sholat sunat, tadbbur Al-Qur'an dll sebaiknya Nikmati pekerjaan seolah-olah kita sedang rekreasi agar kita bisa enjoi q yakin seberat apapu itu pekerjaan jika kita nikmati niscaya tak akan membuat stress

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju pak, menikmati kerja dan melakukannya dengan hati juga menjadi salah satu kunci dalam manajemen stress. Terima kasih sudah melengkapi....

      Hapus